Beranda > Veteriner > REPLIKASI GEN

REPLIKASI GEN

Replikasi gen merupakan perbanyakan/dupliksi gen, kejadian ini ditemukan pada saat pembelahan sel, baik itu pembelahan mitosis maupun pembelahan meiosis. Peneliti meyakini bahwa pada kromosom terdapat gen-gen pembawa informasi genetik.

Pada saat itu belum banyak diketahui bagaimana bentuk gen itu. Kemudian pada tahun 1928 seorang akhli mikrobiologi berkebangsaan Inggris bernama Griffith. Dengan menggunakan bakteri Diplococcus pneumonia meneliti tentang materi genetik bakteri tersebut, kesimpulan yang didapat adalah pembawa informasi genetik adalah DNA. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Oswold Avery pada tahun 1944 di Institut Rokefeller New York dengan menggunakan bakteri yang sama tapi dengan metoda yang berbeda (lebih canggih) yaitu bakteri strain patogen diambil materi genetiknya lalu dimurnikan dan akhirnya dimasukkan ke dalam sel bakteri nonpatogen, hasilnya bakteri nonpatogen itu menjadi patogen, dengan demikian diyakini pembawa informasi genetik itu adalah DNA. Sampai disini disepakati bahwa Gen itu adalah: bagian atau segmen dari DNA yang berperan sebagai pembawa informasi gentik melalui pembentukan secara tidak langsung molekul-molekul protein. Kemudian timbul pertanyaan bagaimanakah bentuk DNA itu, ini belum bisa dijawab.



Kemudian tahun 1953 oleh James D. Watson dan Francis Crick dapat menjawab pertanyaat tersebut yang terkenal dengan sebutan Postulat Watson and Crick yaitu:

  1. Struktur DNA terdiri dari dua rantai polinukleotida yang berbentuk helix berputar ke kanan melingkari satu sumbu membentuk helix berganda.
  2. kedua rantai berpasangan satu dengan yang lainnya dalam posisi anti paralel dan arah rantai yang satu dengan rantai yang lainnya berlawanan arah.
  3. kedua rantai helix melingkar tersebut sedemikian rupa sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan kecuali dengan perlakuan.
  4. Gugus-gugus basa purin dan pirimidin dari kedua rantai terletak di bagian dalam dan basa-basa dari rantai pertama berpasangan dengan basa-basa dari rantai kedua.
  5. Basa-basa tersebut berpasangan sedemikian rupa sehingga basa Adenin (A) berpasangan dengan Timin (T) dan Guanin (G) berpasangan dengan Citosin (C).
  6. Pasangan-pasangan tersebut terjadi karena adanya ikatan hidrogen antara basa dari rantai pertama dengan rantai kedua.
  7. Pasangan basa pada rantai yang satu dengan rantai kedua merupakan pasangan kompementer. Setelah diketahui postulat ini barulah perkembangan di bidang sel sangat maju, bahkan dapat menggunakan DNA untuk melacak penyakit-penyakit keturunan dan sekaligus dapat memperbaiki kelainan DNA yang mengalami kelainan tersebut.

Like this on Facebook

Share on Facebook

Kategori:Veteriner
  1. Mei 15, 2011 pukul 3:13 pm

    blog keren nih,tapi aku ngga bisa follow soalnya modemku lagi lemot banget…:) keep posting ya…salah kenal…saya dari Kedokteran Hewan UB

    • alfo91
      Mei 16, 2011 pukul 3:33 am

      makasih buat apresiasinya,,
      yap,, pasti aq posting,,,
      salam kenal,,
      saya dari FKH universitas udayana bali,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: